Jumat, 29 April 2016

PROFILE SAYA

 Nama : MUHAMMAD DANI ANRIANSYAH

Alamat : KP.TAGOG DESA CIMEKAR KECAMATAN CILEUNYI

Hobi : BERMAIN ALAT MUSIK, NYANYI MUSIK UNDREGGROUND

Asal Sekolah : SMK INFORMATIKA KARYABUDI

Email : danitorture2@gmail.com

Nama Nama Band Indie di Bandung

NAMA NAMA BAND INDIE DI BANDIUNG

1.PAS BAND
 Pas Band merupakan salah satu pelopor musik indie di Bandung. Mereka membuat rekaman “swadaya” dalam bentuk kaset waktu itu dan habis terjual. Banyak yang menganggap hal ini merupakan salah satu penanda kekuatan musik dan komunitas indie Bandung. Band yang selalu mengusung musik cadas ini selalu ditunggu penampilannya hingga saat ini. Band ini sudah sangat terkenal di pelosok Indonesia, sehingga rajin melakukan konser berskala besar di penjuru nusantara.

2.BURGERKILL

Burgerkill merupakan nama band indie cadas terkenal dari Bandung. Band ini terbentuk pada tahun 1995, dan menjadi salah satu simbol komunitas underground Bandung. Nama band ini diambil dari nama restoran siap saji asal Amerika. Band ini pernah menjadi pengisi dalam acara Soundwave di Australia pada tahun 2009. Burgekill masih menjadi ikon musik cadas dan selalu ditunggu penampilannya oleh para penggemar setia.

3.MOCCA


Mocca merupakan salah satu band yang menjadi ikon musik indie nusantara, khususnya dari Bandung. Band ini terbentuk pada tahun 1999 yang mengusung aliran pop indie alternatif, jazz, bossa nova, dan swing. Band ini sudah sering manggung di luar negeri, terutama di negara-negara Asia Timur, seperti Korea Selatan. Tidak heran, banyak lagu-lagu dari Mocca yang menjadi soundtrack drama dan film Korea Selatan. Band yang sempat vakum ini kembali menghibur pecintanya dengan musik-musik yang romantis dan jenaka.
 
4.PURE SATURDAY
 
Band yang terbentuk pada tahun 1994 ini merupakan salah satu sesepuh indie kota Bandung. Musik dari band ini termasuk sederhana namun nyaman di telinga. Band ini sempat vakum dan kembali berkarya pada tahun 2005. Penampilan band ini masih ditunggu oleh pecintanya. Banyak konser dari Pure Saturday yang selalu penuh walau tanpa promosi berlebihan.
 

5. Bottlesmoker

Band ini terkenal dengan gengan kreativitasnya. Tidak hanya digemari di Kota Bandung, band ini sering juga manggung di luar negeri. Bahkan, selain di Bandung, sambutan penonton luar negeri seringkali lebih meriah. Akhirnya alih-alih melebarkan sayap di nusantara, Bottlesmoker memilih untuk banyak menghibur di luar negeri.

 

6.THE SIGIT

 
The Sigit (The Super Insurgent Group of Intemperance Talent), merupakan salah satu band indie yang mengusung genre rock’n roll dan garage rock. Band ini sudah mengundang perhatian publik Bandung khususnya sejak muncul pada tahun 2005. Band ini sempat menggelar konser di Australia dan Amerika Serikat.

 

7.ROCKET ROCKERS


Band ini mengusung melodic, yang menjadi sub-genre dalam musik Punk-Rock. Band ini berdiri pada tahun 1998 dan masih memakai nama Immorality President. Band ini memiliki label sendiri yang bernama Reach & Rich Records. Pada tahun 2006, band ini menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam film dokumenter punk yang berjudul “PUNK’S NOT DEAD THE MOVIE: A Revolution 30 Years In the Making” yang dibuat oleh Susan Dynner.

 

 

tulah tujuh band indie terkenal dari Bandung yang masih eksis hingga saat ini. Aksi mereka di panggung selalu ditunggu oleh penggemar, terutama ketika diadakan di Kota Bandung dan sekitarnya.

 
PERKEMBANGAN MUSIK INDIE DI BANDUNG



 
Musisi Bandung (INDONESIA) banyak mengadopsi budaya barat dalam berkarya. Sebagai negara bagian dunia ketiga, kita memiliki banyak ketertinggalan dalam soal ekonomi dibanding dengan negara-negara maju. Akhirnya musik kelas bawah di belahan utara bumi diadaptasi oleh kelas menengah di Indonesia. Karena kelas menengah memiliki kesempatan lebih untuk mengintip perkembangan dunia musik luar negeri ketika itu. 

Tak heran Presiden Soekarno kala itu pernah memenjarakan Koes Plus, karena musiknya dituduh identik dengan budaya kapitalisme internasional. Soekarno dengan padangan politiknya melihat musik Koes Plus bukan hal yang penting bagi kelas bawah di Indonesia. Koes Plus juga tak salah jika mengadaptasi musik yang menurut mereka mengekspresikan kebebasan. 

Pada tahun 70an perkembangan musik di belahan utara bumi melaju cepat, memacu juga perkembangan musik di tanah air. Guruh Gipsy, Gang Pegangsaan, God Bless, Giant Step, Super Kid, The Rollies, dll adalah sederet nama yang bisa disebut sebagai peletak pondasi musik Indonesia pada masa kontemporer. Secara musikalitas mereka adalah maestro-maestro dunia musik Indonesia. Mereka juga mempopulerkan semangat kemerdekaan (independent / indie) dalam berkarya. Walau pada jaman itu belum ada manajemen musik yang cukup bagus, tapi dengan pengalaman seadanya mereka mulai bekerja sama membangun jaringan. Hal itu dilakukan guna meluaskan musik mereka. Tercatat pula Majalah Aktuil, banyak membantu perkembangan musik pada masa 70an. Melalui tulisan dan peran aktif individu-individu di dalamnya, Aktuil mempromosikan band-band pada jaman itu. 

Tetapi isu-isu sosial belum dianggap penting untuk dibicarakan dalam lirik-lirik mereka. Kalaupun ada, belum menjadi sesuatu yang dominan. Bahkan beberapa grup band (utamanya rock) masih suka memainkan karya-karya band luar negri. Ekspresi kemerdekaan akhirnya hanya menjadi penghias keseharian, gaya hidup bebas ala musisi rock pun menjadi pilihan mereka. 

Pada periode 1990an, perkembangan musik underground semakin pesat. Booming Sepultura dan Metalica menginfluence anak-anak muda Indonesia. Berhadapan dengan industri mainstream yang didominasi oleh rock melayu dan artis wanita, maka jalur underground-lah yang dipilih. Dengan berbasiskan komunitas serta mengandalkan fanzine (buletin-buletin), budaya underground semakin meluas. Dimulailah pembangunan scene-scene musik alternative di masa itu. 

Kota-kota besar seperti Bandung, Jakarta, Surabaya, Malang, dan Jogjakarta menjadi tempat berkembangnya komunitas-komunitas underground. Pada masa itu musik metal menjadi sebuah suguhan altenatif. Selain itu banyak band mulai berani berekspresi dengan menempatkan isu-isu sosial dalam lirik-liriknya. 

PAS band memulai tradisi merilis album secara indie. Album mereka “Four Through The SAP” terjual lebih dari 5000 copy. Selanjutnya banyak band metal dan rock lain memakai metode indie. Tercatat nama-nama seperti Puppen, Koil, Burger Kill, Rotten To The Cure, dll di masa-masa awal perkembangan musik Indie kontemporer Indonesia. 

Ada sekian banyak album, termasuk album-album kompilasi yang dirilis bersama oleh band-band pada jaman itu. Mereka terbantukan dengan pembangunan komunitas-komunitas musik. Begitu juga dengan fanzine (buletin) yang berfungsi untuk mempromosikan hasil karya mereka. Panggung-panggung kecil juga kerap digelar di kafe-kafe. Hal ini selaras dengan pembangunan industri kreatif kaum muda lainnya, seperti clothing dan distro. 

Istilah Indie baru populer di pertengahan tahun 1990an. Awalnya Indonesia lebih mengenal istilah underground bagi musik yang ‘lari’ dari trend budaya mainstream. Perkembangan musik luar yang menghasilkan beberapa varian-varian baru seperti grunge, brit pop, hip-hop, melodic punk, dll. Hal ini menyeret anak-anak muda Indonesia pada sekian banyak pilihan bermusik. Selanjutnya di kota-kota besar, banyak bermunculan band-band serta komunitas-komunitas dengan varian musik yang beragam. Sejak saat itu istilah underground mulai digantikan dengan istilah indie. Mungkin istilah underground dirasa terlalu identik dengan musik metal. Maka istilah indie dengan kesan yang lebih modern mulai lazim digunakan. 

Pure Saturday menjadi pionir band-band dengan aliran selain metal yang membuat album rekaman sendiri. Grup band ini tercatat mencetak album pertamanya pada tahun 1995 dengan tajuk “Not A Pup E.P”. Keberhasilan mencetak album ini lantas diikuti oleh sederet nama lain seperti Waiting Room, Pestol Aer, Toilet Sound, dll. 

Selanjutnya booming Indie semakin menjadi, ketika Mocca (band Swing Pop asal Bandung) sukses menembus angka di atas 100.000 copy dalam penjualan kaset mereka. Keberhasilan Mocca, turut membawa dampak bagi perkembangan musik indie. Selanjutnya deretan nama seperti Puppen, Shaggy Dog, Superman Is Dead, Rocket Rockers, Superglad, dll mencuri perhatian para penikmat musik. 

Bahkan beberapa nama di atas, mendapat kontrak dari label-label rekaman besar. Kontrak ini sempat menjadi perdebatan di scene-scene indie. Sebagian dari para scenester menganggap hal ini sebagai pengkhianatan terhadap idealisme independent. Sebagian lagi menganggap ini sebagai peluang memperkenalkan musik mereka secara massal. 

Terlepas dari perdebatan-perdebatan tersebut, musik indie tetap mendapatkan tempat di dunia musik Indonesia. Beberapa band seperti The S.I.G.I.T, The Upstairs, The Brandals, The Milo, Bangku Taman, Efek Rumah Kaca, Teenage Dead Star, Seek Six Sick, The Adams, White Shoes And The Couple Company, dan Goodnight Electric mendapatkan tempatnya di hati para penikmat musik. Terakhir delapan album rilisan band dan label indie masuk dalam jajaran 20 album terbaik versi Rolling Stone tahun 2008. Ini membuktikan bahwa kualitas musik band-band Indie di Indonesia sangat baik. Karena mampu bersaing dengan karya band dan label besar (mainstream). 

Bahkan dalam hal penyebaran karya, mereka sangat maju. Ketika industi musik mainstream berteriak soal bajakan, beberapa band Indie di Indonesia dengan bangga membagi-bagikan cd album mereka secara gratis. Metode yang bertolak belakang dengan keinginan para produser musik mainstream. 

KOIL merilis album “Black Shines On”, membagikannya sebagai bonus Majalah Rolling Stone Indonesia. Langkah ini diikuti oleh Naif dan Rosewood. Sebelumnya The Upstairs melepas lagu mereka secara gratis lewat situs Myspace. Langkah ini meniru band-band luar negeri (Radiohead, Coldplay, dan Metallica). 

Semangat-semangat perlawanan juga masih terdengar dalam lirik-lirik band indie di Indonesia. Terakhir kita dengar Efek Rumah Kaca yang lugas dalam merekam realitas sosial. Lagu ‘Di Udara’ misalnya, bercerita soal kematian Munir. Selanjutnya ada ‘Cinta Melulu’, yang mengkritik soal budaya latah musisi Indonesia dalam membuat lirik-lirik lagu cinta. Hits lainnya ‘Jalang’, mengkritik kebijakan UU Pornografi dan Pornoaksi. 

Ras Muhammad dengan musik reggae-nya pantas juga disebut sebagai musisi indie yang concern berbicara soal realitas-realitas sosial. Belum lagi jika menyebut beberapa band punk seperti Marjinal dan Bunga Hitam yang hampir setiap lirik lagunya berbau kritik sosial. Hal yang sama juga masih dilakukan oleh band-band lain, seperti Burger Kill, KOIL, Seringai, Komunal, dll. Untuk band-band seperti ini kita pantas mengucap salut. Mereka benar-benar mengadopsi idealisme indie dalam bermusik. Idealisme yang bukan hanya sekedar dimaknai dalam proses distribusi dan produksi kaset / cd, tapi juga dalam karya mereka yang jujur dalam merekam realistas sosial.